Randy Lorena Candra

7 September 2013

Lahir dalam Keluarga Cinta Kebersihan
21.190 Comments

Hidup adalah perjalanan sang waktu. Banyak peristiwa telah terjadi dan waktu lah yang selalu menjadi saksi abadi. Lewat tulisan sederhana ini, saya mencoba mengulang kembali bagaimana perjalanan hidup saya dari waktu ke waktu hingga menempuh jenjang Pendidikan Tinggi sampai saat ini.

Nama saya Randy Lorena Candra dan biasa dipanggil Randy. Nama tengah saya terselip nama sebuah bus angkutan kota, tapi bukan berarti saya lahir di dalam bus yang namanya sama dengan nama tengah saya, saya juga sempat bingung dan marah kenapa nama saya aneh seperti itu. Suatu saat saya pernah bertanya pada orangtua saya mengenai asal-usul nama saya dan dengan entengnya Ibu saya menjawab ‘Mamak juga tak tau, itu oom yang buat nama’ . Berhubung saya sangat penasaran saya pun lanjut bertanya pada om saya kenapa nama saya seperti itu dan saya akhirnya mendapatkan jawabannya ‘ Gak ada alasan khusus, Om senang dengar kata lorena jadi om buat deh dalam nama kamu’ . Sempat kesal dengan alasan yang sangat tidak istimewa tersebut, namun lama-kelamaan saya mulai bisa menerima kenyataan pahit lahir dengan nama yang terbilang aneh. Namun sekarang saya merasa bangga punya nama seperti itu, bukan karena busnya semakin terkenal melainkan karena belakangan saya tahu bahwa orang-orang yang lulus dari Universitas di Kairo mendapat gelar L,c maka sejak kelas X di sekolah menengah atas saya hanya menulis nama dengan Randy L,c berharap ada orang yang menganggap saya adalah lulusan Kairo (Ngarep,red).  

Saya adalah anak kedua dari 3 bersaudara yang dilahirkan oleh Bapak Hakim Gunawan dan Ibu Erni Haryanti. Saya lahir pada 19 Maret 1995 sekitar 18 Tahun yang lalu di Bagansiapiapi, ibukota Kabupaten Rokan Hilir. Ayah saya adalah seorang Petugas Kebersihan Pasar tepatnya bagian pemotong rumput. Dan Ibu saya juga seorang petugas kebersihan pasar di bagian menyapu jalanan. Saya bangga dengan profesi kedua orangtua saya yang cinta kebersihan. Ayah saya lahir di Teluk Pulau, Rokan Hilir pada tanggal 20 Agustus 1970 dan Ibu saya lahir di kota Dumai pada tanggal 23 September 1973. Saya mempunyai seorang kakak perempuan bernama Windy Syafitri. Kakak saya lahir di Bagansiapiapi, 12 Januari 1992 dan saat ini sudah berkeluarga. Dan saya punya seorang adik laki-laki bernama Tyo Atmaja Fri Septi lahir pada tanggal 14 September 2002 dan sekarang sedang duduk di kelas V sekolah Dasar. 


Read more

11 Juni 2013

Tuhan, Aku ingin Punya Laptop
04.360 Comments

Dinginnya embun bersambut teriknya mentari serta pesona bulan di kala malam telah menegaskan begitu dahsyatnya ciptaan tuhan. Namun terkadang manusia tak pernah menyadari arti keindahan itu. 
Seperti aku, anak kedua dari 3 bersaudara yang terlahir dari keluarga miskin yang tak pernah merasakan keindahan hidup. Aku adalah seorang siswa sekolah menengah atas di salah satu sekolah favorit di daerahku. Kemajuan teknologi telah membuat banyak perubahan di dunia termasuk system belajar di sekolahku. Pada awalnya kegiatanku di sekolah berjalan seperti biasa, namun lama kelamaan semuanya seakan berubah. 

Ketika sudah memasuki semester genap di tingkat pertama sekolahku, banyak tugas yang diberikan guru. Sebagai seorang pelajar, tugas tentunya tak akan menjadi masalah buat ku. Namun sebagian besar dari tugas itu adalah tugas yang mengharuskan kami membuat power point yang tentunya memerlukan computer atau laptop. Ya, seperti yang telah ku jelaskan di aawal, aku hanyalah seorang anak miskin, jangankan laptop atau computer untuk makan sehari-hari saja kami harus bekerja dulu. Tapi semua keterbatasan yang ada tak akan menghalangiku mengejar cita-citaku. Aku terus berusaha sebisa mungkin. Tugas yang diberikan adalah sebuah kewajiban bagi seorang pelajar. Jadi satu-satunya cara bagiku untuk mengerjakan tugas yang ada adalah dengan mengerjakannya di warnet. Resikonya adalah aku harus mengeluarkan banyak rupiah sebagai bayaran kepada penjaga warnet. Keadaan seperti ini berlangsung lama. Dan aku tidak pernah menyerah dalam menyelesaikan semua kewajiban kami sebagai pejuang ilmu.

Tibalah pada suatu saat, dimana saat itu kami telah di tetapkan naik ke tingkat dua dalam proses belajar-mengaja­r, dan pada hari itu kami sedang menunggu hasil pembagian kelas. Setelah beberapa lama kami menunngu ternyata aku di terima di kelas IPA 1 dari 4 kelas IPA yang ada. Sebelum pembagian kelas ini aku sudah memasang niat, dimanapun aku di tempatkan aku harus belajar lebih giat. 

Awalnya aku merasa tidak ada yang berubah. Namun setelah beberapa bulan belajar, kami kembali disibukkan dengan berbagai macam tugas yang lagi-lagi berbentuk power point. Hal ini seakan menjadi pukulan telak bagiku. Saat itu keadaan ekonomi keluargaku sedang mengalami masalah, dan aku sendiripun tidak punya rupiah untuk ke warnet seperti yang kulakukan di tingkat pertama. Tugas itu adalah tugas bahasa inggris dimana gurunya memberikan waktu 2 minggu untuk menyelesaikanny­a . Beberapa hari aku berfikir keras untuk mencari cara bagaimana aku menyelesaikan tugas tersebut.

Suatu malam aku berdoa kepada Allah di iringi tangisan kecil,? Ya allah mudahkan aku dalam mengerjakan tugas ini, sebagai seorang hambamu yang penuh dengan keterbatasan aku hanya memohon 1 permintaan sederhana ya allah, AKU INGIN PUNYA LAPTOP”.

Setelah beberapa hari dan atas bantuan Allah, akhirnya aku menemukan cara untuk menyelesaikan tugas. Aku membuang perasaan malu yang ada, aku memberanikan diri untuk meminjam laptop dengan temanku. Temanku ini bernama Yoga, Yoga termasuk siswa yang cukup malas di kelasku, awalnya yoga tidak mau meminjamkan. Namun dengan sedikit rayuan bahwa aku akan mengerjakan tugasnya sekalian, diapun akhirnya mau meminjamkan. 

Aku pun akhirnya bias menyelesaikan tugas yang ada. Dan satu hal yang penting adalah aku punya alternative baru untuk menutupi keterbatasanku dalam mengerjakan tugas. selang bebrapa minggu tugas-tugas kembali datang menghampiri. Dan aku selalu memakai cara yang sama dalam mengerjakannya,­ yaitu meminjam laptop temanku dengan konsekuensi harus mengerjakan tugasnya. Ini berlangsung sampai aku naik ke tingkat terakhir di sekolahku.

Ketika masuk di tingkat 3, sebuah PT perminyakan Indonesia mengadakan program Darmasiswa dimana program ini adalah program pencarian siswa berprestasi untuk diberikan bantuan berupa sebuah laptop dan biaya perkuliahan. Aku sangat bersemangat ketika mendengar berita ini. Aku sangat ingin meraih keinginan sederhanaku yaitu punya Laptop. Namun banyak seleksi yang harus dijalani, aku harus ,menjalani beberapa tes. Namun karena aku termasuk salah satu siswa yang cerdas dan aktif, akhirnya aku dan 2 orang temanku dipilih sebagai perwakilan dari sekolahku. Selanjutnya kami bertiga harus mengikuti beberapa tes lagi.

Setelah menjalani berbagai tes, akhirnya tibalah pengumuman pemberian beasiswa oleh panitia. Dan ternyata aku masuk golongan ke empat dengan total bantuan 8,5 juta per tahun. Aku sangat bahagia sekali menerima hal ini, bukan karena besranya uang yang aku dapatkan melainkan karena aku berhasil meraih keinginan sederhanaku yaitu memiliki sebuah LAPTOP.



Read more

9 Desember 2012

Perjalanan sang waktu
21.360 Comments


Perasaan risau, cemas dan sedih bercampur menjadi satu. Dentuman jantung saat itu serasa mengalahkan suara petir di musim hujan. Gemericik darah yang mengalir terasa bagai tsunami menggulung bumi. Hembusan nafas bagai beliung tak beraturan. Sore itu, aku dan semua siswa kelas 9 disekolahku diminta untuk berkumpul di lapangan. Aku, Badrol dan Hasan yang sejak lama bersahabat datang dengan gaya kaku memakai tanda pengenal kami “Putih Biru”. Sore itu kami semua berkumpul di lapangan upacara tepat pukul 16.00 WIB, memakai seragam putih biru seperti  yang di instruksikan kepalas ekolah.

Kami berbaris rapi tanpa berani bertingkah karena dalam hati kami saat itu ada perasaan takut yang coba kami sembunyikan. Sejurus kemudian pemimpin sekolah naik ke podium upacara,para wali kelas diminta untuk membagikan amplop keseluruh siswa di lapangan. Bagaikan prajurit yang dikomandoi olehJendral, para wali kelas segera membagikan amplop keseluruh siswa. Kemudian sang pemimpin sekolah meminta kami untuk membuka dan membaca isi amplop tersebut. Aku sempat bingung, amplop apa ini?. Pertanyaan itu terus muncul dalam pikiranku. Dalam kebingungan itu aku tetap melaksanakan perintah kepala sekolah. Setelah membuka amplop itu mataku tertuju pada satu kata “LULUS”. Satu kata itulah yang selama berhari-hari belakangan selalu kami tunggu dan kata itulah yang menjawab segala kerisauan dalam hati kami.
‘Duaarrr’….

Tiba-tiba suara petir membuyarkan lamunanku. Pagi itu gerimis menemani diriku yang dilanda kegalauan.
Aku segera mengambil tas dan memakai sepatu untuk melanjutkan aktivitas rutinku sebagai pejuang ilmu. Pagi itu aku tiba di sekolah dengan semangat luar biasa. Rasanya aku ingin melahap semua ilmu yang disuapkan oleh guru.  Aku sadar waktuku disekolah ini hanya sebentar lagi,  karena kini aku telah berada di tingkat teratas alam putih abu-abu.

Jam pelajaran pertama dimulai.
10 menit berlalu guru yang masuk jam pertama belum juga menunjukkan diri. Sampai 1 jam berlalu guru itu belum juga menunjukkan diri. Semangatku untuk melahap pelajaran mulai hilang. Saat aku termenung, salah seorang teman sekelasku mengajakku pergi kekantin yang sebenarnya sangat dilarang. Namun entah setan apa yang masuk dalam pikiranku saat itu, aku pun tidak menolak ajakannya. Aku merasa ada sesuatu yang berbeda. Hari demi hari selalu aku habiskan bersama kebiasaan baru yang menyesatkan ini. Aku selalu pergi kekantin ketika guru tidak masuk.Dan akhirnya aku terbiasa.

2 bulan berlalu, kami satu kelas dihukum lari keliling lapangan karena tidak mengerjakan tugas. Saat itulah timbul perasaan menyesal dalam diriku, kenapa aku menjadi seperti ini. Dalam hati aku merintih “YaTuhan, kembalikan semangat belajarku yang dulu”.
Sekarang, aku mencoba kembali menata kehidupanku yang dulu sempat hilang karena kebiasaan yang menyesatkan. Aku menjadi lebih giat belajar karena yang ada dalam pikiranku saat ini adalah bagaimana cara mengulang momen 3 tahun silam. Momen dimana aku dan sahabatku meneriakkan satu kata “LULUS”.


Read more